PERBANDINGAN PENETAPAN KADAR KLORIN PADA TEPUNG TAPIOKA BERMEREK DAN TIDAK BERMEREK DENGAN MEGGUNAKAN N,N Diethyl-p-phenylendiamine METODE KOLORIMETER KOMPARATOR
Kata Kunci:
klorin, tepung tapioka, DPD, Kolorimeter KomparatorAbstrak
Tepung tapioka merupakan salah satu bahan pangan pokok yang banyak dipakai masyarakat. Dalam praktiknya, beberapa produsen cenderung menambahkan bahan pemutih seperti klorin untuk meningkatkan tampilan visual produk, padahal penggunaan klorin sebagai bahan tambahan pangan dilarang menurut BPOM dan Peraturan Menteri Kesehatan RI dan FDA. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan kadar klorin metode kolorimetri menggunakan reagen N,N Diethyl- p-phenylendiamine (DPD) dengan alat Comparator Lovibond pada sampel tepung tapioka bermerek dan tidak bermerek yang berasal dari beberapa pasar tradisional di Kota Bandung. Penelitian bersifat eksperimen terhadap enam sampel yang diperoleh dari tiga pasar. Hasil uji kualitatif menunjukkan seluruh sampel positif klorin dilanjutkan semikuantitatif. Kadar masing- masing tiga jenis tapioka bermerek dari pasar Cicadas rata-rata ketiganya sama (Kode Rb, T dan G) yaitu 0,49 mg/L sedangkan yang tidak bermerek (Cl) dari pasar Ujungberung sumber pabrik lampung, dan (Ct) pasar Kiaracondong sumber pabrik Tasikmalaya rata-rata keduanya sama 0,49 mg/L sedangkan (Cb) dari pasar Cicadas produsen Bandung 0,99 mg/L
Dapat disimpulkan bahwa, kadar klorin keseluruhan sampel tapioka bermerek meskipun lebih kecil dari yang tidak bermerek, kesemuanya tidak memenuhi syarat mengacu pada peraturan BPOM (dilarang keras), PERMENKES (dilarang keras) dan FDA (0,82% natrium hipoklorit atau 0,36% kalsium hipoklorit).
Yang menarik adalah kenyataan bahwa sampel tepung tapioka yang mengandung kadar klorin tertinggi (kode Cb) berasal dari pasar Cicadas produsen Bandung.
Selanjutnya disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dengan sampel dari lokasi yang lebih banyak dengan reagensia atau metode lain